asuhan keperawatan pada pasien ventilasi mekanik

Asuhan keperawtan pada pasien ventilasi mekanik










Oleh:

Krismonika alfajaria








UNIVERSITAS NASIONAL FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDIKEPERAWATAN
JAKARTA
2022






KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia yang diberikan pada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan keperawatan pada pasien dengan Ventilasi Mekanik” ini tepat waktu. Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada bapak Tommy Wowor , S.kep MM, selaku dosen mata kuliah keperawatan kritis.
Adapun makalah ini kami buat selain untuk melengkapi tugas mata kuliah keperawatan kritis juga sebagai informasi kepada masyarakat luas khususnya kepada pada tenaga kesehatan . Kami juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan maklah ini  baik secara materul ataupun secara spiritual.
Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna baik dari teknik penulisan maupun materi. Oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun agar kami dapat memperbaikinya. Akhir kata, kami mengucapkan banyak terimakasih dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Pandeglang, 5 Juli 2022


Penyusun 

DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan Penelitian 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3
Konsep Ventilator Mekanik 3
2.2 Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan  Bantuan Ventilator 3 ………… 9
BAB III PENUTUP 15
Kesimpulan 15
3.2 Saran 15

DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN

 Latar Belakang

Ventilasi mekanik (ventilator) memegang peranan penting bagi dunia keperawatan kritis, dimana perannya sebagai pengganti bagi fungsi ventilasi bagi pasien dengan gangguan fungsi respiratorik (Sundana, 2014). Ventilator merupakan alat bantu pernafasan bertekanan negatifatau positif yang menghasilkan udara terkontrol pada jalan nafas sehingga pasien mampu mempertahankan ventilasi dan pemberian oksigen dalam jangka waktu lama. Dimana tujuan dari pemasangan ventilator tersebut adalah mempertahankan ventilasi alveolar secara optimal untuk memenuhi kebutuhan metabolik pasien, memperbaiki hipoksemia, dan memaksimalkan transport oksigen (Purnawan. 2018).
Ventilator adalah suatu system alat bantuan hidup yang dirancang untuk menggantikan atau menunjang fungsi pernapasan yang normal. Tujuan utama pemberian dukungan ventilator mekanik adalah untuk mengembalikan fungsi normal pertukaran udara dan memperbaiki fungsi pernapasan kembali ke keadaan normal. Ventilator mekanik dibagi menjadi dua, yaitu ventilator mekanik invasive dan ventilator mekanik non invasive. Peningkatan kualitas dari ventilator mekanik menyebabkan makin luasnya area penggunaan mesin tersebut. Tindakan operasi yang membutuhkan penggunaan anestesi dan sedative sangat terbantu dengan keberadaan alat ini. Resiko terjadinya gagal napas selama operasi akibat pengaruh obat sedative sudah bisa tertangani dengan keberadan ventilator mekanik.
Berdasarkan data yang penulis peroleh dari hasil pengumpulan data rekam medic Icu RSUD Pandeglang Banten selama periode April 2022 sampai dengan Mei 2022 pasien yang dirawat di RSUD Pandeglang Banten sebanyak 311 pasien menggunakan ventilator mekanik. Sebanyak 162 pasien pasca pembedahan, dan 41 pasien menggunakan ventilasi mekanik dengan penyakit non pembedahan. Oleh karena tingginya kebutuhan akan ventilator mekanik yang dapat dianggap menyelamatkan kehidupan pada pasien kritis, maka penting bagi tenaga kesehatan untuk mengetahui pengaplikasikan ventilator mekanik. dengan permasalahan tersebut penulis tertarik untuk membuat makalah asuhan keperawatan pasien kritis dengan ventilasi mekanik.
Berdasarkan dari data tersebut penulis menyimpulkan bahwa kebutuhan penggunaan ventilasi mekanik di area kritis sangat tinggi, baik untuk pasien pasca pembedahan maupun pasien non pembedahan.









1.2. Tujuan
Tujuan umum
Mampu menerapkan asuhan keperawatan kepada pasien yang terpasang ventilasi mekanik
Tujuan khusus
Mahasiswa mengetahui konsep ventilasi mekanik
Mahasiswa mengetahui indikasi pemasangan ventilasi mekanik 
Mahasiswa mampu menegtahui klasifikasi ventilasi mekanik 
Mahasiswa mampu menegtahui mode ventilasi mekanik 
Mahasiswa mampu menegtahui komplikasi pemasanagan ventilasi mekanik
Mahasiswa mampu Melakukan pengkajian pada pasien kritis yang terpasang ventilasi mekanik
Mahasiswa mampu Menentukan masalah keperawatan yang timbul pada pasien kritis yang terpasang ventilasi mekanik.
Mahasiswa mampu Merencanakan tindakan keperawatan pasien kritis dengan ventilasi mekanik.
Mahasiswa mampu Melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana tindakan keperatawan pada pasien kritis dengan ventilasi mekanik.
Mahasiswa mampu Melakukan evaluasi dari tindakan keperawatan pada pasien kritis dengan ventilasi mekanik.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Ventilator Mekanik
Pengertian
Ventilasi mekanik adalah proses penggunaan suatu peralatan untuk memfasilitasi transpor oksigen dan karbondioksida antara atmosfer dan alveoli untuk tujuan meningkatkan pertukaran gas paru-paru (Urden, Stacy, Lough 2010). 
Ventilator merupakan alat pernafasan bertekanan negatif atau positif yang dapat mempertahankan ventilasi dan pemberian oksigen untuk periode waktu yang lama. Ventilator mekanik merupakan alat bantu pernapasan bertekanan positif atau negative yang menghasilkan aliran udara terkontrol pada jalan napas pasien sehingga mampu mempertahankan ventilasi dan pemberian oksigen dalam jangka waktu lama. Tujuan pemasangan ventilator mekanik adalah untuk mempertahankan ventilasi alveolar secara optimal dalam rangka memenuhi kebutuhan metabolic pasien, memperbaiki hipoksemia, dan memaksimalkan transport oksigen (Hidayat, et all 2020).
Terdapat beberapa tujuan pemasangan ventilator mekanik, yaitu: mengurangi kerja pernapasan, meningkatkan tingkat kenyamanan pasien, Pemberian MV yang akurat, mengatasi ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi dan menjamin hantaran O2 ke jaringan adekuat

Tujuan pemasangan ventilasi mekanik
Mengurangi kerja pernafasan
Meningkatkan tingkat kenyamanan pasien 
Pemberian MV yang akurat
Mengatasi tidakseimbangan ventilasi dan perfusi
Menjamin hantaran 02 ke jaringan adekuat 

Kriteria pemasangan ventilasi mekanik 
Menurut pontipidan ( 2003 ) seseorang perlu mendapat bantuan ventilasi mekanik ( ventilator ) bila :
Frekuensi nafas lebih dari 35 kali per menit
Hasil analisis gas darah dengan o2 masker PaO2 kurang dari 70 mmhg 
PaCO2 lebih dari 60 mmhg
AaDO2 dengan O2 100 % hasilnya lebih dari 350 mmhg
Vital capa situ kurang dari 15 ml /kg BB
Indikasi Ventilasi Mekanik
Pasien dengan gagal nafas. Pasien dengan distres pernafasan gagal nafas, henti nafas (apnu) maupun hipoksemia yang tidak teratasi dengan pemberian oksigen merupakan indikasi ventilasi mekanik. Idealnya pasien telah mendapat intubasi dan pemasangan ventilasi mekanik sebelum terjadi gagal nafas yang sebenarnya. Distres pernafasan disebabkan ketidakadekuatan ventilasi dan atau oksigenasi. Prosesnya dapat berupa kerusakan paru (seperti pada pneumonia) maupun karena kelemahan otot pernafasan dada (kegagalan memompa udara karena distrofi otot).
Insufisiensi jantung. Tidak semua pasien dengan ventilasi mekanik memiliki kelainan pernafasan primer. Pada pasien dengan syok kardiogenik dan CHF, peningkatan kebutuhan aliran darah pada sistem pernafasan (sebagai akibat peningkatan kerja nafas dan konsumsi oksigen) dapat mengakibatkan jantung kolaps. Pemberian ventilasi mekanik untuk mengurangi beban kerja sistem pernafasan sehingga beban kerja jantung juga berkurang.
Disfungsi neurologis. Pasien dengan GCS 8 atau kurang yang beresiko,mengalami apne berulang juga mendapatkan ventilasi mekanik. Selain itu ventilasi mekanik juga berfungsi untuk menjaga jalan nafas pasien serta memungkinkan pemberian hiperventilasi pada klien dengan peningkatan tekanan intra cranial. Tindakan operasi.
Tindakan operasi yang membutuhkan penggunaan anestesi dan sedative sangat terbantu dengan keberadaan alat ini. Resiko terjadinya gagal napas selama operasi akibat pengaruh obat sedative sudah bisa tertangani dengan keberadaan ventilasi mekanik.
2.1.5. Klasifikasi Ventilasi Mekanik

Ventilator mekanik dibedakan atas beberapa klasifikasi. Berdasarkan cara alat tersebut mendukung ventilasi, dua kategori umum adalah ventilator tekanan negatif dan tekanan positif. Ventilator tekanan negatif mengeluarkan tekanan negatif pada dada eksternal

Klasifikasi 
Ventilasi mekanik diklasifikasikan berdasarkan cara alat tersebut mendukung ventilasi, dua kategori umum adalah ventilator tekanan negatif dan  tekanan positif. 
 
1. Ventilator Tekanan Negatif 
Ventilator tekanan negatif mengeluarkan tekanan negatif pada dada eksternal. Dengan mengurangi tekanan intratoraks selama inspirasi memungkinkan udara mengalir ke dalam paru-paru sehingga memenuhi volumenya. Ventilator jenis ini digunakan terutama pada gagal nafas kronik yang berhubungn dengan kondisi neurovaskular seperti poliomyelitis, distrofi muscular, sklerosisi lateral amiotrifik dan miastenia gravis. Penggunaan tidak sesuai untuk pasien yang tidak stabil atau pasien yang kondisinya 
membutuhkan perubahan ventilasi sering. 
 
2. Ventilator Tekanan Positif 
Ventilator tekanan positif menggembungkan paru-paru dengan mengeluarkan tekanan positif  pada jalan nafas dengan demikian mendorong alveoli untuk mengembang selama inspirasi. Pada ventilator jenis ini diperlukan intubasi endotrakeal atau trakeostomi. Ventilator ini secara luas digunakan pada klien dengan penyakit paru primer. Terdapat tiga jenis ventilator tekanan positif yaitu tekanan bersiklus, waktu bersiklus dan volume 
bersiklus.
Ventilator tekanan bersiklus adalah ventilator tekanan positif yang mengakhiri inspirasi ketika tekanan preset telah tercapai. Dengan kata lain siklus ventilator hidup mengantarkan aliran udara sampai tekanan tertentu yang telah ditetapkan seluruhnya tercapai, dan kemudian siklus mati. Ventilator tekanan bersiklus dimaksudkan hanya untuk jangka waktu pendek di ruang pemulihan. Ventilator waktu bersiklus adalah ventilator mengakhiri 
atau mengendalikan inspirasi setelah waktu ditentukan. Volume udara yang diterima klien diatur oleh kepanjangan inspirasi dan frekuensi  aliran udara . Ventilator ini digunakan pada neonatus dan bayi. Ventilator volume bersiklus yaitu ventilator yang mengalirkan volume udara pada setiap inspirasi yang telah ditentukan. Jika volume preset telah dikirimkan pada klien , siklus ventilator mati dan ekshalasi terjadi secara pasif. Ventilator  volume bersiklus 
sejauh ini adalah ventilator tekanan positif yang paling banyak digunakan. (©2003 Digitized by USU digital library 1). 
Berdasarkan mekanisme kerjanya ventilator mekanik tekanan positif dapat dibagi menjadi empat jenis yaitu :

Volume Cycled Ventilator.
Volume cycled ventilator merupakan jenis ventilator yang paling sering digunakan di ruangan unit perawatan kritis. Perinsip dasar ventilator ini adalah siklusnya berdasarkan volume. Mesin berhenti bekerja dan terjadi ekspirasi bila telah mencapai volume yang ditentukan. Keuntungan volume cycled ventilator adalah perubahan pada komplain paru pasien tetap memberikan volume tidal yang konsisten. Jenis ventilator ini banyak digunakan bagi pasien dewasa dengan gangguan paru secara umum. Akan tetapi jenis ini tidak dianjurkan bagi pasien dengan gangguan pernapasan yang diakibatkan penyempitan lapang paru (atelektasis, edema paru). Hal ini dikarenakan pada volume cycled pemberian tekanan pada paru-paru tidak terkontrol, sehingga dikhawatirkan jika tekanannya berlebih maka akan terjadi volutrauma. Sedangkan penggunaan pada bayi tidak dianjurkan, karena alveoli bayi masih sangat rentan terhadap tekanan, sehingga memiliki resiko tinggi untuk terjadinya volutrauma.

2) Pressure Cycled Ventilator
Prinsip dasar ventilator type ini adalah siklusnya menggunakan tekanan. Mesin berhenti bekerja dan terjadi ekspirasi bila telah mencapai tekanan yang telah ditentukan. Pada titik tekanan ini, katup inspirasi tertutup dan ekspirasi terjadi dengan pasif. Kerugian pada type ini bila ada perubahan komplain paru, maka volume udara yang diberikan juga berubah. Sehingga pada pasien yang setatus parunya tidak stabil, penggunaan ventilator tipe ini tidak dianjurkan, sedangkan pada pasien klien- klien atau dewasa mengalami gangguan pada luas lapang paru (atelektasis, edema paru) jenis ini sangat dianjurkan.


3) Time Cycled Ventilator
Prinsip kerja dari ventilator type ini adalah siklusnya berdasarkan waktu ekspirasi atau waktu inspirasi yang telah ditentukan. Waktu inspirasi ditentukan oleh waktu dan kecepatan inspirasi (jumlah napas permenit). Normal ratio I : E (inspirasi : ekspirasi ) 1 : 2.

4) Berbasis aliran (Flow Cycle), 
Memberikan napas dan menghantarkan oksigen berdasarkan kecepatan aliran yang sudah diset.

Mode Ventilasi Mekanik

Secara keseluruhan, mode ventilator terbagi menjadi 2 bagian besar yaitu mode bantuan sepenuhnya dan mode bantuan sebagian.
Mode bantuan penuh terdiri dari mode volume control (VC) dan pressure control (PC). Baik VC ataupun PC, masing-masing memenuhi target Tidal Volume (VT) sesuai kebutuhan pasien (10-12 ml/kgBB/breath) Volume Control (VC)
Pada mode ini, frekwensi nafas (f) dan jumlah tidal volume (TV) yang diberikan kepada pasien secara total diatur oleh mesin. Mode ini digunakan jika pasien tidak sanggup lagi memenuhi kebutuhan TV sendiri dengan frekwensi nafas normal. Karena pada setiap mode control, jumlah nafas dan TV mutlak diatur oleh ventilator, maka pada pasien-pasien yang sadar atau inkoopratif akan mengakibatkan benturan nafas (fighting) anatara pasien dengan mesin ventilator saat insfirasi atau ekspirasi. Sehingga pasien harus diberikan obat-obat sedatif dan pelumpuh otot pernafasan sampai pola nafas kembali efektif. Pemberian muscle relaksan harus benar-benar dipertimbangkan terhadap efek merugikan berupa hipotensive.


Pressure Control (PC)
Jika pada mode VC, sasaran mesin adalah memenuhi kebutuhan TV atau MV melalui pemberian volume, maka pada mode PC target mesin adalah memenuhi kebutuhan TV atau MV melalui pemberian tekanan. Mode ini efektif digunakan pada pasien-pasien dengan kasus edema paru akut.
Mode bantuan sebagian terdiri dari SIMV (Sincronous Intermitten Minute Volume), Pressure Support (PS), atau gabungan volume dan tekanan SIMV-PS.

SIMV (Sincronous Intermitten Minute Volume)
Jika VC adalah bantuan penuh maka SIMV adalah bantuan sebagian dengan targetnya volume. SIMV memberikan bantuan ketika usaha nafas spontan pasien mentriger mesin ventilator. Tapi jika usaha nafas tidak sanggup mentriger mesin, maka ventilator akan memberikan bantuan sesuai dengan jumlah frekwensi yang sudah diatur. Untuk memudahkan bantuan, maka trigger dibuat mendekati standar atau dibuat lebih tinggi. Tetapi jika kekuatan untuk mengawali inspirasi belum kuat dan frekwensi nafas terlalu cepat, pemakaian mode ini akan mengakibatkan tingginya WOB (Work Of Breathing) yang akan dialami pasien. Mode ini memberikan keamanan jika terjadi apneu. Pada pasien jatuh apneu maka mesin tetap akan memberikan frekwensi nafas sesuai dengn jumlah nafas yang di set pada mesin. Tetapi jika keampuan inspirasi pasien belum cukup kuat, maka bias terjadi fighting antara mesin dengan pasien. Beberapa pengaturan (setting) yang harus di buat pada mode SIMV diantaranya: TV, MV, Frekwensi nafas, Trigger, PEEP, FiO2 dan alarm batas atas dan bawah MV.

Pressure Support (PS)
Jika PC merupakan bantuan penuh, maka PS merupakan mode bantuan sebagian dengan target TV melalui pemberian tekanan. Mode ini tidak perlu mengatur frekwensi nafas mesin karena jumlah nafas akan dibantu mesin sesuai dengan jumlah trigger yang dihasilkan dari nafas spontan pasien. Semakin tinggi trigger yang diberikan akan semakin mudah mesin ventilator memberikan bantuan. Demikian pula dengan IPL, semakin tinggi IPL yang diberikan akan semakin mudah TV pasien terpenuhi. Tapi untuk tahap weaning, pemberian trigger yang tinggi atau IPL yang tinggi akan mengakibatkan ketergantungan pasien terhadap mesin dan ini akan mengakibatkan kesulitan pasien untuk segera lepas dari mesin ventilator. Beberapa pengaturan yang harus di buat pada mode VC diantaranya: IPL, Triger, PEEP, FiO2, alarm batas atas dan bawah MV serta Upper Pressure Level. Jika pemberian IPL sudah dapat diturunkan mendekati 6 cm H2O, dan TV atau MV yang dihasilkan sudah terpenuhi, maka pasien dapat segera untuk diweaning ke mode CPAP (Continuous Positive Air Way Pressure)
1). SIMV + PS
Mode ini merupakan gabungan dari mode SIMV dan mode PS. Umumnya digunakan untuk perpindahan dari mode kontrol. Bantuan yang diberikan berupa volume dan tekanan. Jika dengan mode ini IPL dibuat 0 cmH2O, maka sama dengan mode SIMV saja. SIMV + PS memberikan kenyamanan pada pasien dengan kekuatan inspirasi yang masih lemah. Beberapa pengaturan (setting) yang harus di buat pada mode VC diantaranya: TV, MV, Frekwensi nafas, Trigger, IPL, PEEP, FiO2, alarm batas atas dan bawah dari MV serta Upper Pressure Limit.

2). CPAP (Continous Positif Airway Pressure)
Mode ini digunakan pada pasien dengan daya inspirasi sudah cukup kuat atau jika dengan mode PS dengan IPL rendah sudah cukup menghasilkan TV yang adekuat. Bantuan yang di berikan melalui mode ini berupa PEEP dan FiO2 saja.  Dengan demikian penggunaan mode ini cocok pada pasien yang siap ekstubasi.

2.1.7. Komfliksasi Dari Pemasangan Ventilasi Makenik 

Berikut beberapa komflikasipemasangan ventilasi makenik menurut Bersten dan Soni (2009)
Kompikasi akibat peralatan. Terkait multi fungsi atau pemutusan
Komplikasi terkait dengan paru-paru, seperti intubasi Airway misalnya keruksakan gigi, pita suara dan trakea, Ventilator acquired Pneumonia (PAV), gangguan terkait cedera paru-paru misalnya difusi cedera paru-paru, barotrauma misalnya pneumothoraxdan keracunan 02
Komplikasi yang terkait dengan kardiovaskuler, sepertipenurunan preload ventrikel kanan yang menyebabkan penurunan curah jantung, peningkatan afterload vertikal kanan, retensi cairan karena penurunan jantung yang mengakibatkan penurunan aliran darah dan ginjal.
Komplikasi lainnya seperti : luka perdarahan pada jaringanmukosa, kelemahan otot-otot pernapasan dan peripheral, gangguan tidur, kecemasan, katakutan akibat lamanya waktu setelah masa penyembuhan , distensi akibat menelan, imobilisasai dan masalah pencernaan. 

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan  Bantuan Ventilator

2.2.1 Pengkajian
Hal-hal yang perlu dikaji pada psien yang mendapat nafas buatan dengan ventilator adalah:
Biodata
Meliputi nama, umur, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa, agama, alamt, dll.
Pengkajian ini penting dilakukan untuk mengetahui latar belakang status sosial ekonomi, adat kebudayaan dan keyakinan spritual pasien, sehingga mempermudah dalam berkomunikasi dan menentukan tindakan keperawatan yang sesuai.
Riwayat penyakit/riwayat keperawatan
Informasi mengenai latar belakang dan riwayat penyakit yang sekarang dapat diperoleh melalui oranglain (keluarga, tim medis lain) karena kondisi pasien yang dapat bentuan ventilator tidak mungkin untuk memberikan data secara detail. Pengkajian ini ditujukan untuk mengetahui kemungkinan penyebab atau faktor pencetus terjadinya gagal nafas/dipasangnya ventilator.
Keluhan
Untuk mengkaji keluhan pasien yang mengalami penurunan kesadaran, bisa dilakukan dengan cara menilai status GCS pasien. Keluhan pasien yang dapat di perhatikan adalah rasa sesak  nafas, nafas terasa berat, kelelahan dan ketidaknyamanan. Frekuensi pernapasan, Irama Nafas dan penggunaan otot bantu pernapasa.
Sistem pernafasan
Setting ventilator meliputi: 
Mode ventilator
CR/CMV/IPPV (Controlled Respiration/Controlled Mandatory Ventilation/Intermitten Positive Pressure Ventilation)
SIMV (Syncronized Intermitten Mandatory Ventilation)
ASB/PS (Assisted Spontaneus  Breathing/Pressure Suport)
CPAP (Continous Possitive Air Presure)
FiO2: Prosentase oksigen yang diberikan
PEEP: Positive End Expiratory Pressure
Frekwensi nafas
Gerakan nafas apakah sesuai dengan irama ventilator
Expansi dada kanan dan kiri apakah simetris atau tidak
Suara nafas: adalah ronkhi, whezing, penurunan suara nafas
Adakah gerakan cuping hidung dan penggunaan otot bantu tambahan
Sekret: jumlah, konsistensi, warna dan bau
Humidifier: kehangatan dan batas aqua
Tubing/circuit ventilator: adakah kebocoran tertekuk atau terlepas
Hasil analisa gas darah terakhir/saturasi oksigen
Hasil foto thorax terakhir 
Sistem kardiovaskuler
Penkajian kardiovaskuler dilakukan untuk mengetahui  adanya gangguan hemodinamik yang diakibatkan setting ventilator (PEEP terlalu tinggi) atau disebabkan karena hipoksia. Pengkajian meliputi tekanan darah, nadi, irama jantung, perfusi, adakah sianosis dan banyak mengeluarkan keringat. 
Sistem neurologi
Pengkajian meliputi tingkat kesadaran, adalah nyeri kepala, rasa ngantuk, gelisah dan kekacauan mental.
Sistem urogenital
Adakah penurunan produksi urine (berkurangnya produksi urine menunjukkan adanya gangguan perfusi ginjal)
Status cairan dan nutrisi
Status cairan dan nutrisi penting dikaji karena bila ada gangguan status nutrisi dan cairan akan memperberat keadaan. Seperti cairan yang berlebihan dan albumin yang rendah akan memperberat oedema paru.
Status psycososial
Pasien yang dirawat di ICU dan dipasang ventilator sering mengalami depresi mental yang dimanifestasikan berupa kebingungan, gangguan orientasi, merasa terisolasi, kecemasan dan ketakutan akan kematian.
2.2.2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang muncul menurut Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI 2017) adalah :

2.2.2.1.Diagnosa : Bersihan jalan napas tidak efektif (D.0001) 
Luaran : Bersihan jalan nafas
Intervensi keperawatan : 
Manajemen Jalan napas (I.01011)
Monitor pola napas dengan melihat monitor
Monitor bunyi napas tambahan (mis. Gurgling, mengi, wheezing, ronci
Monitor sputum
Posisikan 60°
Berikan minumair hangat
Lakukan fisioterapi dada
Lakukan penghisapan lender kurang dari 15 detik
Hiperoksigenasi
Ajarkan batuk efektif
Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspetoran, mukolitik, jika perlu
  Pemantauan Respirasi (I.01014)
Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
Auskultasi bunyi napas
Monitor saturasi oksigen
Dokumentasikan hasil  pemantauan

Gangguan pertukaran gas (D.0003) 
Luaran : pertukaran gas meningkat
Intervensi keperawatan :
Pemantauan Respirasi (I.01014)
Monitor frekuensi, irama,kedalaman dan upaya napas dengan melihat ke monitor
Monitor pola napas( seperti bradipnea, takipnea, hiperventilasi, kussmaul, cheyne-stokes, biot, atksik)
Monitor kemampuan batuk efektif
Monitor sumbatan jalan napas
Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
Auskultasi bunyi napas
Monitor saturasi oksigen
Monitor nilai AGD
Monitor hasil X-ray Toraks
Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien
Dokumnetasikan hasil pemantauan
Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan


  Terapi Oksigen (I.01026)
Monitor kecepatan aliran oksigen
Monitor kecepatan aliran oksigen
Monitor efktifitas terapi oksigen
Monitor tanda-tanda hipoventilasi
Bersihkan secret pada mulut, hidung, dan trakea jika perlu
Pertahankan kepatenan jalan napas
Berikan oksigen  tambahan
Ajarkan teknik relaksasi
Kolaborasi penentuan dosis oksigen

Gangguan penyapihan ventilator (D.0002) 
Penyapihan Ventilasi Mekanik (I.01021)
Periksa kemampuan  untuk disapih
Monitor prediktor untuk  penyapihan
Monitor tanda-tanda kelelahan
Posisikan 60°
Lakukan suction
Lakukan fisioterapi dada
Lakukan uji coba penyapihan
Beri dukungan fisiologis
 Pemantauan Respirasi (I.01014)
Monitor frekuensi, irama,kedalaman dan upaya napas
Monitor pola napas( seperti bradipnea, takipnea, hiperventilasi, kussmaul, cheyne-stokes, biot, atksik)
Monitor kemampuan batuk efektif
Monitor adanya sumbatan jalan napas
Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
Auskultasi bunyi napas
Monitor saturasi oksigen
Monitor nilai AGD
Monitor hasil X-ray Toraks
Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien
Dokumnetasikan hasil pemantauan
Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan

Gangguan pola tidur (D.0055) 
 Dukungan Tidur (I.05174)
Identifikasi pola istirahat tidur
Jelaskan metode  aktivitas fisik sehari-hari
Identifikasi sumber daya untuk aktivitas yang diinginkan
Monitor respon emosional
Fasilitasi fokus pada kemampuan
Koordinasikan pemilihan aktivitas
Fasilitasi aktivitas motorik kasar
Fasilitasi mengembangkan kemampuan diri
Ajarkan cara melakukan aktivitas yang dipilih
Jelaskan metode aktivitas fisik sehari-hari

2.2.2.5   Risiko aspirasi(D.0006) 
Manajemen Jalan napas (I.01011)
Monitor pola napas dengan melihat monitor
Monitor bunyi napas tambahan(mis.Gurgling,mengi, wheezing, ronkhi)
Monitor sputum
Posisikan 60°
Berikan minumair hangat
Lakukan fisioterapi dada
Lakukan penghisapan lender kurang dari 15 detik
Hiperoksigenasi
Ajarkan batuk efektif
Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspetoran, mukolitik, jika perlu
. Pencegahan Aspirasi (I.01018)
Monitor tingkat kesadaran, batuk, muntah, dan kemampuan menelan
Monitor status  pernapasan
Monitor bunyi napas
Posisikan 30-45°
Pertahankan kepatenan jalan napas
Perhatikan pengembangan balon ETT
Lakukan suction
Ajarkanteknik mencegah aspirasi
Ajarkanteknik mengunyah atau menelan

2.2.2.6 Intoleransi aktivitas (D.0054)
Luaran : intoleransi aktivitas meningkat 
Intervensi :  
 Manajemen energi ( I. 05178 )
sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus 
kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkat kan asupan

terapi aktivitas (I. 05186 )
Libatkan keluarga dalam aktifitas
Fasilitasi pasien dan keluarga memantau kemajuannya sendiri untuk mencapai tujuan 
Anjurkan keluarga untuk memberi penguatan positif atau partisipasi dalam aktivitas

 Risiko infeksi 

Intervensi Pencegahan infeksi 

2.2.8.8 Risiko cedera 


BAB III
PENUTUP


3.1  Kesimpulan
Ventilasi mekanik adalah suatu alat bantu mekanik yang berfungsi memberikan bantuan nafas pasien dengan cara memberikan tekanan udara positif pada paru-paru melalui jalan nafas buatanadalah suatu alat yang digunakan untuk membantu sebagian atau seluruh proses ventilasi untuk mempertahankan oksigenasi 
Ada beberapa tujuan pemasangan ventilator mekanik, yaitu:
Mengurangi kerja pernapasan
Meningkatkan tingkat kenyamanan pasien
Pemberian MV yang akurat
Mengatasi ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi
Menjamin hantaran O2 ke jaringan adekuat
Pasien dengan gagal nafas
Insufisiensi jantung.
Disfungsi neurologist
Tindakan operasi

3.2 Saran
Semoga dengan adanya makalah kita ini,kita dapat lebih mudah dalam memahami Vetilasi Mekanik Dasar dan dapat kita aplikasikan dalam praktek lapangan.
DAFTAR PUSTAKA


SDKI, Tim Pokja. 2017. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia. 3rd ed. Vol.
3. Jakarta: Dewan PP PPNI.
SIKI, Tim Pokja. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. 2nd ed.
Jakarta: Dewan PP PPNI
SLKI, Tim Pokja. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta: Dewan PP PPNI.

Smeltzer SC, Bare BG. (1996). Brunner & Suddart’s textbook of medical-surgical nursing. (8th ed). Philadelphia: Lippincott-Raven Publishers.
Rab T. (1998). Agenda Gawat Darurat. (ed 1). Bandung: Penerbit Alumni.
Wirjoatmodjo K. (2000). Anestesiologi dan Reanimasi: Modul dasar untuk Pendidikan S1 Kedokteran. Jakarta: DIKTI.

















LAMPIRAN
CONTOH VENTILASI MEKANIK
Ventilasi invasive



Ventilasi non invasif



Comments

Popular posts from this blog

Makalah triage, makalah gawat darurat, makalah keperawatan, makalah, triage, makalah triage komplit, makalah terbaru

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER

ASUHAN KEPERAWATAN PADA WANITA DALAM MASA CHILDBEARING (HAMIL, MELAHIRKAN, DAN SETELAH MELAHIRKAN) BAYINYA