ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN 
PENYAKIT JANTUNG KORONER




DISUSUN OLEH: 
KRISMONIKA ALFAJARIA




PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NASIONAL
JAKARTA
2022

KATA PENGANTAR 

Syukur alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik, serta hidayahnya, sehingga penulisan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Penyakit Jantung Koroner” yang dibimbing oleh Ns. Rizki Hidayat, S. Kep, MM dan telah diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Makalah ini merupakan materi mengenai Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Hipertensi yang telah disebutkan dalam judul tugas terstruktur ini. Penulis berusaha mendapatkan dan mengumpulkan beberapa materi dari berbagai referensi.
Segala upaya telah dilakukan untuk menyempurnakan makalah ini. Namun, kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat beberapa kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kami sangat menghargai apabila terdapat saran maupun kritik yang membangun dari semua pihak. Kami berharap makalah ini dapat memberikan manfaat dan wawasan bagi para pembacanya.

Jakarta,  Juni 2022



Penulis



DAFTAR ISI

JUDUL
KATA PENGANTAR …………………………………………………………… i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………. ii
BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………….. 1
LATAR BELAKANG …………………………………………………... 1
TUJUAN PENULISAN ………………………………………………… 4
MANFAAT PENELITIAN …………………………………………….. 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ……………………………………………….. 6
ANATOMI FISIOLOGI ……………………………………………….. 6
PENYAKIT JANTUNG KORONER ………………………………… 10
PENGERTIAN …………………………………………………….. 10
KLASIFIKASI …………………………………………………….. 11
ETIOLOGI ………………………………………………………… 12
MANIFESTASI KLINIS …………………………………………. 16
PEMERIKSAAN PENUNJANG …………………………………. 16
KOMPLIKASI …………………………………………………….. 18
PENATALAKSANAAN ………………………………………….. 20
PENCEGAHAN …………………………………………………… 22
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER ……………………………. 22
BAB III PENUTUP ……………………………………………………………. 33
KESIMPULAN ………………………………………………………... 33
SARAN ………………………………………………………………… 34
DAFTAR PUSTAKA



BAB I 
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Sistem kardiovaskuler merupakan salah satu sistem utama yang ada pada tubuh manusia. Sistem kardiovaskuler memiliki dua jalur sirkuler utama yaitu sirkuit paru-paru dan sirkuit sistemis yang melayani kebutuhan jaringan-jaringan tubuh. Pada dasarnya banyak gejala gangguan kardiovaskuler hampir serupa dengan hajala dan tanda gangguan lain. Hal ini sering kali menyebabkan orang awam salah menganggap gejala umum yang dirasakan sebagai gejala penyakit jantung dan bahkan masyarakat sering menduga-duga tanpa memiliki pengetahuan yang jelas mengenai penyakit kardiovaskuler (Sidabutar, 2019).
Penyakit kardiovaskuler berhubungan dengan sistem kardiovaskuler, yang mencakup jantung (berfungsi memompa darah), pembuluh darah (mengedarkan atau mengalirkan darah), dan keadaan darah. Ketiga bagian tersebut sangat penting karena berperan sebagai pengatur dan penyalur O2 dan nutrisi ke seluruh bagian tubuh. Bila salah satu organ tersebut mengalami gangguan, terutama jantung, maka akan mengganggu semua sistem tubuh (Ekayanti, 2019). Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia. Data yang diterbitkan oleh WHO tahun 2015 menunjukkan bahwa sebanyak 17.3 miliar orang di dunia meninggal karena penyakit kardiovaskuler. Indonesia menempati urutan ke empat negara dengan jumlah kematian terbanyak akibat penyakit kardiovaskuler yaitu penyakit jantung koroner (ischaemic heart disease) (WHO, 2015).
Penyakit Jantung Koroner adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh penyempitan dan penghambatan pembuluh arteri yang mengalirkan darah ke otot jantung. Penyempitan dan penghambatan disebabkan oleh akumulasi plak yang berada dibagian dinding arteri coronaria sehingga menyebabkan terjadinya penurunan aliran darah ke jantung yang dapat berakibat terjadinya gangguan oksigenasi otot jantung dengan berbagai derajat bentuk iskemia, infark sampai nekrosis otot jantung dan juga kematian (Lilly, 2016).
Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan bagian dari penyakit kardiovaskular yang merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia. Data WHO (World Health Organization) menunjukan sekitar 3,8 juta pria dan 3,4 juta wanita meninggal setiap tahunnya karena PJK dan di negara Eropa, PJK merupakan penyebab kematian tertinggi, didapatkan bahwa satu kematian dari empat pria disebabkan karena PJK (Chilton, 2004). Berdasarkan data AHA (American Heart Association) menunjukkan bahwa setiap 26 detik terjadi satu kejadian koroner dan setiap satu menit terjadi kematian karena PJK di negara Amerika (Nabel et al., 2012). Negara berkembang merupakan penyumbang terbesar kematian karena PJK, tahun 1990 dilaporkan sekitar 3,5 juta kematian dari total 6 juta kematian karena PJK. Angka ini diprediksi akan meningkat menjadi 7,8 juta dari total 11 juta kematian diseluruh dunia karena PJK pada 2020 (Tardif, 2010). Hasil Riset Kesehatan Dasar oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013 menyatakan bahwa prevalensi penyakit jantung koroner di Indonesia sebesar 0,5% atau diperkirakan sekitar 883,447 orang, sedangkan berdasarkan diagnosis dokter gejala menunjukkan sebesar 1,5% atau diperkirakan berjumlah sekitar 2.650.340 orang, jumlah terbanyak PJK diperkirakan di provinsi Jawa Barat sebanyak 160.812 orang (0,5%), sedangkan paling sedikit terdapat  di provinsi Maluku Utara sebanyak 1.436 orang (0,2%).
Munculnya PJK disebabkan oleh adanya kejadian stenosis arteri koroner yang ditandai dengan proses aterosklerosis terlebih dahulu. Aterosklerosis merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas di dunia, melalui manifestasi mayor penyakit kardiovaskular dan stroke, kemungkinan akan menjadi penyebab kematian secara global pada tahun 2020. Bukti terbaru menunjukkan bahwa aterosklerosis merupakan proses inflamasi kronis dan patogenesisnya melibatkan lipid. Penyakit jantung koroner adalah penyakit yang dikarakteristikan dengan obstruksi arteri koroner, yang paling sering diakibatkan oleh plak ateromatosa (Libby, 2005). Proses pembentukan plak tersebut disebut aterogenesis yang bermula dari adanya disfungsi endotel yang dihasilkan dari paparan racun akibat merokok, kadar abnormal dari lipid yang bersikulasi didarah, atau diabetes. Peningkatan kadar HDL berhubungan positif dengan penurunan risiko penyakit jantung koroner (Barter, 2015). Peningkatan HDL mungkin dapat mereduksi kandungan lipid pada plak aterosklerosis. Namun pada penelitian berupa analisis meta regresi tahun 2009 yang dilakukan pada 146.890 pasien dengan intervensi dan 152.420 pasien dalam kelompok kontrol, menunjukkan kesimpulan bahwa perubahan pada HDL tidak berhubungan dengan reduksi dari kejadian penyakit jantung koroner, tetapi berisiko penyakit jantung koroner meningkat sebesar 16% setiap kenaikan HDL sebesar 10 mg/dl. Berdasarkan laporan The National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III (NCEP ATP III) telah mendefinisikan sebuah High Density Lipoprotein (HDL) cholesterol (C) 40 mg / dL sebagai faktor risiko independen untuk penyakit jantung koroner (Molnar et al., 2009).
HDL merupakan salah satu parameter dalam menentukan hiperlipidemia yang merupakan faktor risiko dari AMI (Acute Miokard Infark). Setiap penurunan 4 mg% HDL, akan meningkatkan risiko AMI sekitar 10 % (Karyadi, 2006).
Menurut Penelitian Ahmed bulan Januari tahun 2018 telah melaporkan bahwa terdapat korelasi negative yang signifikan antara kadar HDL dengan jumlah kejadian penyakit pembuluh koroner dengan nilai p<0,001 yang menunjukan bahwa terdapat hubungan antara kadar HDL dengan jumlah kejadian penyakit pembuluh koroner (Ahmed et al., 2018).
Saat ini untuk untuk memperbaiki profil lipid biasanya pasien diberi obat anti lipidemia yaitu salah satunya adalah obat golongan statin. Statin dapat meningkatkan kadar HDL 5-15% dengan cara memblok HMG-CoA reductase. Namun, penggunaan statin dalam jangka panjang dapat memunculkan berbagai efek samping seperti miopati, DM dan gangguan memori pada pasien usia di atas 50 tahun (Erwinanto et al., 2013) untuk itu perlu dilakukan penelitian yang mengarah pada peran HDL dalam mencegah PJK.
Penegakan diangnosis pada pasien PJK dapat dilakukan dengan pemeriksaan angiografi. Angiografi adalah prosedur diagnostik pencitraan pembuluh darah arteri koroner dengan menggunakan media kontras sinar X dimasukkan kedalam aliran darah arteri femoralis atau brakialis untuk menilai kelainan dari pembuluh darah arteri koroner baik itu  presentase, letak lumen, jumlah kondisi dari penyempitan lumen, besar kecilnya pembuluh darah, ada tidaknya kolateral dan fungsi ventrikel kiri. Pemeriksaan angiografi adalah tindakan invasif dan hanya dapat dilakukan pada rumah sakit dengan pelayanan Cath Lab/angiografi (Tendera et al., 2011).
Penilaian untuk beratnya stenosis pada PJK dapat digunakan penghitungan dengan sistem skoring, misalnya dengan metode pengelompokkan signifikan dan non signifikan, penghitungan Gensini Score dan dapat dikelompokkan dengan metode 1VD (Vessel Disease), 2VD (Vessels Disease), 3VD (Vessels Disease) (Cengiz et al., 2018).
Penentuan beratnya stenosis pada PJK yang dikelompokkan dengan metode 1VD (Vessel Disease), 2VD (Vessels Disease), 3VD (Vessels  Disease) yaitu berdasarkan penyempitan pada lumen pembuluh darah yang terlihat melalui pemeriksaan angiografi dan memiliki kelebihan yaitu merupakan analisis visual perkiraan terbaik dan simple, tetapi tidak bisa melihat jelas presentase dan letak obstruksinya (Lim et al., 1996).
Menurut penelitian Lopes tahun 2008 telah melaporkan bahwa penyempitan diameter lumen pembuluh darah berdasarkan Three Vessels Disease memiliki prognosis yang buruk dibandingkan penyempitan diameter lumen pembuluh darah berdasarkan One Vessel dan Two Vessels Disease pada penyakit arteri koroner dengan nilai p< 0,001 (Lopes et al., 2008).
Berdasarkan latar belakang di atas, perlu rasanya dilakukan penelitian tentang apakah terdapat hubungan kadar kolesterol HDL dengan beratnya PJK yang dilihat pengelompokan 1VD (Vessel Disease), 2VD (Vessels Disease), 3VD (Vessels Disease) yang dinilai melalui pemeriksaan angiografi.
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk membuat makalah yang berjudul “ Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Penyakit Jantung Koroner ”.

Tujuan Penulisan
Tujuan Umum
Mampu menggambarkan asuhan keperawatan pada klien dengan Penyakit Jantung Koroner.
Tujuan Khusus
Mampu memahami konsep dasar Penyakit Jantung Koroner.
Mampu memahami konsep dasar asuhan keperawatan pada klien dengan Penyakit Jantung Koroner.
Mampu mengidentifikasi pengkajian pada klien dengan dengan Penyakit Jantung Koroner.
Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan Penyakit Jantung Koroner.
Mampu menetapkan intervensi keperawatan pada klien dengan Penyakit Jantung Koroner.
Mampu melaksanakan implementasi keperawatan pada klien dengan Penyakit Jantung Koroner.
Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada klien dengan Penyakit Jantung Koroner.  

Manfaat Penelitian
Manfaat Praktis
Memberikan informasi mengenai hubungan kadar HDL dengan derajat stenosis pada pasien PJK berdasarkan Vessel Disease.
Dengan mengetahui adanya hubungan kadar HDL dengan kejadian stenosis arteri koroner, maka dapat membuka pemahaman secara patofisiologi akan kejadian proses aterosklerosis secara lebih luas, menambah khasanah pengetahuan, serta dapat menjadi acuan penelitian lanjutan dan pengelolaan pada pasien PJK.
Bagi dokter dan tenaga medis, diharapkan dari hasil penelitian ini dapat membantu dalam penilaian awal kejadian stenosis arteri koroner pada pasien PJK stabil dengan hasil laboratorium kadar HDL . 
Manfaat Praktis
Memberikan informasi mengenai hubungan kadar HDL dengan derajat stenosis pada pasien PJK berdasarkan Vessel Disease.
Dengan mengetahui adanya hubungan kadar HDL dengan kejadian stenosis arteri koroner, maka dapat membuka pemahaman secara patofisiologi akan kejadian proses aterosklerosis secara lebih luas, menambah khasanah pengetahuan, serta dapat menjadi acuan penelitian lanjutan dan pengelolaan pada pasien PJK.
Bagi dokter dan tenaga medis, diharapkan dari hasil penelitian ini dapat membantu dalam penilaian awal kejadian stenosis arteri koroner pada pasien PJK stabil dengan hasil laboratorium kadar HDL . 
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
 
Anatomi Fisiologi
Anatomi Jantung
Lokasi, ukuran dan letak jantung 
Jantung terletak pada rongga torak tepatnya di mediastinum diantara paru kanan dan kiri, apex terletak di sebelah kiri dari midline intercosta ke -5. Bagian atas jantung terletak di bagian bawah sterna notch. 1/3 jantung di sebelah kanan mid line strenum dan 2/3 lagi berada di bagan kiri dari midline sternum. Pada orang dewasa jantung memiliki berat sebesar 250-350 gram (Nazmah, 2014).
Lapisan otot jantung
Lapisan otot jantung dibagi menjadi 3 lapisan yang terdiri dari :
Luar/pericardium
Pericardium merupakan lapisan yang melindungi jantung dan sebagai kantong pembungkus jantung berada pada mediastinum minus.
Tengah/miokardium
Lapisan otot jantung dan fungsinya untuk menerima darah yang berasal dari arteri koronaria.
Dalam/endocardium
Endocardium merupakan bagian jantung dalam atrium yang terdiri dari membrane yang mengikat seperti jaringan endotel.
Jantung mempunyai 4 ruang yang terdiri dari :
Atrium dextra
Merupakan ruang jantung yang berfungsi menampung darah kotor atau miskin O2 dari vena cava superior maupun vena cava inferior (pembuluh darah balik).


Atrium sinistra
Merupakan ruang jantung yang berfungsi menampung darah bersih atau kaya O2 dari pulmonal (paru-paru).
Ventrikel dextra
Memompakan darah kotor atau miskin O2 menuju ke pulmonal (paru-paru).
Ventrikel sinistra
Memompakan darah bersih atau kaya O2 ke seluruh tubuh.
Katup jantung
Katup jantung terdiri dari 4 katup yaitu :
Trikuspid valve/katup trikuspid
Katup diantara atrium kanan dan ventrikel kanan. Katup ini berfungsi menjaga agar tidak terjadi aliran darah balik dari ventrikel kanan ke atrium kanan.
Bikuspid valve/mitral valve/katup bikuspid/mitral
Katup diantara atrium kiri dan ventrikel kiri. Katup ini berfungsi menjaga agar tidak terjadi aliran darah balik dari ventrikel kiri ke atrium krir.
Pulmonary valve/katup pulmonal
Katup yang mengatur aluran darah dari ventrikel kanan ke arteri pulmonalis yang membawa darah ke paru-paru untuk mengambil oksigen.
Aorta valve/katup aorta
Katup yang terletak diantara ventrikel kiri dan aorta. Fungsi katup ini mencegah alurah darah kembali ke jantung (ventrikel kiri).
Pembuluh darah arteri koroner
Ada dua arteri koroner yaitu :
Arteri koroner kanan
Arteri koroner kiri, yang terbagi dua yaitu A. Koroner LCx (surcumflex) dan LAD (left anterior desenden).
Tiga (#) area/region dari sekian area yang disuplai oleh arteri koroner kanan yaitu : ventrikel kanan, bagian inferior, dan bagian posterior.
Tiga (3) area/region dari sekian area yang disuplai oleh arteri sirkumflex yaitu : lateral, posterior, dan bagian inferior.
Tiga (3) area/region dari sekian area yang disuplai oleh arteri LAD, yaitu anterior, sepral, apical.
Fisiologi Jantung
Sistem peredaran darah jantung
Vena kava superior dan vena kava inferior mengalirkan darah ke atrium dekstra yang datang dari seluruh tubuh. Arteri pulmonalis membawa darah dari ventrikel dektra masuk ke paru-paru (pulmo). Antara ventrikel sinistra dan arteri pulmonalis. Vena pulmonalis membawa darah dari paru-paru masuk ke atrium sinistra kemudian ke ventrikel sinistra kemudian masuk ke aorta melalui sebuah katup valvula semilunaris aorta (pembuluh darah terbesar) dan membawa darah ke seluruh tubuh.
Peredaran darah jantung terbagi menjadi 3, yaitu :
Arteri koronaria kanan
Berasal dari sinus anterior aorta berjalan kedepan antara truknus pulmonalis dan aurtikula memberikan cabang-cabang ke atrium dekstra dan ventrikel kanan.
Arteri koronaria sinistra
Lebih besar dari arteri koronaria dekstra.
Aliran vena jantung
Sebagian darah dari dinding jantung mengalir ke atrium kanan melalui sinus koronarius yang terletak dibagian belakang sulkus atrioventrikularis merupakan lanjutan dari vena.
Fungsi umum otot jantung, yaitu :
Sifat ritmisitas/otomatis : secara potensial berkuntraksi
Mengikuti hukum gagal atau tuntas : impils dilepas mencapai ambang rangsang otot jantung maka seluruh jantung akan berkontraksi maksimal.
Tidak dapat berkontarksi tetanik
Kekuatan kontraksi dipengaruhi panjang awal otot.
Metabolisme otot jantung
Seperti otot kerangka, otot jantung juga menggunakan energi kimia untuk berkontraksi. Energi terutama berasal dari metabolisme asam lemak dalam jumlah yang lebih kecil dari metabolisme zat gizi terutama laktat dan glukosa. Proses metabolisme jantung adalah aerobic yang membutuhkan oksigen.
Pengaruh ion pada jantung
Pengaruh ion kalium : kelebihan ion kalium pada cairan ekstraseluler (ECS) menyebabkan jantung dilatasi, lemah dan frekuensi lambat.
Pengaruh ion kalsium : kelebihan ion kalsium menyebabkan jantung berkontarksi spastis.
Pengaruh ion natrium : menekan fungsi jantung.
Sistem konduksi jantung
Sistem konduksi jantung meliputi :
SA node : tumpukan jaringan neuromuscular yang kecil berada di dalam dinding atrium kanan di ujung krista terminalis.
AV node : susunannya sama dengan SA node berada di dalam septum atrium dekat muara sinus koronari.
Bundle atrioventrikuler dari bundle AV berjalan ke arah depan pada tepi posterior dan tepi bawah pars membranasea septum interventrikuler. Serabut penghubung terminal (purkinje) : anyaman yang berada pada endokardium menyebar pada kedua ventrikular. (Ardiansyah, 2012).


Penyakit Jantung Koroner
Pengertian
Penyakit jantung koroner (PJK) atau Coronary Artery Disease (CAD) adalah penyakit yang terjadi di arteri koroner dimana terdapat penyempitan pada liang arteri koroner yang disebabkan oleh artherosklerosis. Dimana pada proses artherosklerosis terjadi perlemakan pada dinding arteri koroner yang terjadi sudah sejak muda sampai usia lanjut. Terjadinya infark dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko, hal ini dapat tergantung dari individu itu sendiri. Gejala yang umum yaitu angina (nyeri dada) yang timbul ketika otot jantung tidak mendapatkan suplai darah yang kaya akan oksigen dan akan cenderung memburuk dengan aktivitas dan stress emosional (Nurhidayat, 2011).
Penyakit  jantung  koroner  (PJK)  adalah  penyakit  dimana  pembuluh darah   yang   menyuplai   makanan   dan   oksigen   untuk   otot   jantung mengalami   sumbatan.   Sumbatan   paling   sering   terjadi   diakibatkan adanya  penumpukan  kolesterol  di  dinding  pembuluh  darah  koroner (Helmanu, 2015).
Penyakit Jantung Koroner (PJK) atau  Acute coronary syndrome (ACS) adalah gejala yang disebabkan adanya penyempitan atau tersumbatnya pembuluh darah arteri koroner baik sebagian atau total yang mengakibatkan suplai oksigen pada otot jantung tidak terpenuhi (Haryono, 2020).

Gambar 2.1 Pembuluh darah jantung/koroner yang mengalami sumbatan
Klasifikasi
Menurut Helmanu, (2015) penyakit jantung koroner dibagi menjadi dua kelompok, yaitu :
Chronic Stable Angina (Angina Piktoris stabil (APS)
Ini merupakan bentuk awal dari penyakit jantung koroner yang berkaitan dengan berkurangnya aliran darah ke jantung yang ditandai dengan rasa tidak nyaman didada atau nyeri dada, punggung, bahu, rahang, atau lengan tanpa disertai kerusakan sel-sel pada jantung. Stress emosi atau aktivitas fisik biasanya bisa menjadi pencetus APS namun itu bisa dihilangkan dengan obat nitrat. Pada penderita ini gambar EKG tidak khas, melainkan suatu kelainan.
Acute Coronary Syndrome (ACS) Merupakan suatu sindrom klinis yang bervariasi. ACS dibagi menjadi 3, yaitu :
Unstable Angina (UA) atau Angina Piktoris Tidak Stabil (APTS) 
APTS meskipun hampir sama namun ada perbedaan pada sifat nyeri dan patofisiologi dengan APS. Sifat nyeri yang timbul semakin lebih berat dari sebelumnya atau semakin sering muncul pada saat istirahat, nyeri pada dada yang timbul pertama kalinya, angina piktoris dan prinzmental angina setelah serangan jantung ( myocard infaction ). Kadang akan terdapat kelainan dan kadang juga tidak pada gambaran EKG penderita.
Acute Non ST Elevasi Myocardinal Infarction (NSTEMI)
Ditandai dengan sel otot jantung seperti CKMB, CK, Trop T, dan lain-lain yang didalamnya terdapat enzim yang keluar yang merupakan tanda terdapat kerusakan pada sel otot jantung. Mungkin tidak ada keainan dan yang paling jelas tidak ada penguatan ST elevasi yang baru pada gambran EKG.
Acute ST Elevasi Myocardina Infarction (STEMI)
Sudah ada kelainan pada gambaran EKG berupa timbulnya Bundle Branch Block yang baru atau ST elevasi baru. Kelainan ini hampir sama denagn NSTEMI.
Etiologi
Menurut Pratiwi, (2011) penyebab terjadinya penyakit jantung koroner pada perinsipnya disebabkan oleh dua faktor utama yaitu:
Aterosklerosis
Aterosklerosis paling sering ditemukan sebagai sebab terjadinya penyakit arteri koroneria. Salah satu yang diakibatkan Aterosklerosis adalah penimbunan jaringan fibrosa dan lipid didalam arteri koronaria, sehingga mempersempit lumen pembuluh darah secara progresif. Akan membahayakan aliran darah miokardium jika lumen menyempit karena resistensi terhadap aliran darah meningkat.
Trombosis
Gumpalan darah pada mulanya berguna untuk pencegah pendarahan berlanjut pada saat terjadi luka karena merupakan bagian dari mekanisme pertahan tubuh. Lama kelamaan dinding pembuluh darah akan robek akibat dari pengerasan pembuluh darah yang terganggu dan endapan lemak. Berkumpulnya gumpalan darah dibagian robek tersebut yang bersatu dengan kepingan-kepingan darah menjadi trombus. Trombosis dapat menyebabkan serangan jantung mendadak dan stroke.
Menurut (Piscilla LeMone, dkk, 2019) penyebab penyakit jantung koroner yaitu :
Tidak dapat dimodifikasi
Usia
Sebagian besar kasus kematian terjadi pada laki-laki umur 35-44 tahun dan meningkat seiring dengan bertambahnya umur, terutama setelah umur 40 tahun. Pada laki-laki dan perempuan kadar kolesterol mulai meningkat di usia 20 tahun. Sebelum mengalami menopause kadar kolesterol pada perempuan lebih rendah dari pada laki-laki yang memiliki usia hampir sama. Kadar kolesterol perempuan setelah mengalami menopause biasanya akan meningkat lebih tinggi dari laki-laki. Semakin tua umur maka semakin besar kemungkinan timbulnya plak yang menempel di dinding arteri koroner.
Jenis kelamin
Penyakit jantung koroner pada laki-laki resikonya 2 sampai 3 kali lebih besar dari perempuan. Tetapi pada perempuan yang menoupose cenderung memiliki risiko terkena PJK secara cepat sebanding dengan laki-laki. Adanya hormon esterogen endogen pada perempuan yang bersifat protektif membuat risiko terserang penyakit jantung bisa lebih rendah.
Riwayat keluarga
Orang tua yang mengalami PJK kemungkinan anaknya juga berisiko memiliki penyakit yang sama. Jika seorang ayah terkena serangan jantung sebelum usia 60 tahun atau ibu terkena sebelum 65 tahun, keturunannya akan berisiko tinggi terkena PJK. Riwayat keturunan mempunyai risiko lebih besar untuk terkena PJK dibandingkan yang tidak mempunyai riwayat penyakit PJK dalam keluarganya.
Dapat dimodifikasi
Hipertensi
Merupakan salah satu faktor resiko utama penyebab terjadinya penyakit jantung koroner. Tekanan darah tinggi secara terus menerus menyebabkan kerusakan sistem pembuluh darah dengan perlahan-lahan. Komplikasi yang terdapat pada hipertensi esensial biasanya terjadi akibat perubahan struktur arteri dan arterial sistemik, utamanya pada kasus yang tak terobati. Pada awalnya terjadi hipertropi dari tunika media lalu hialinisasi setempat serta penebalan fibrosis dari tunika intima lalu berakhir dengan terjadinya penyemepitan pembuluh darah.
Diabetes
Diabetes dapat meningkatkan resiko gangguan dalam peredaran darah,termasuk PJK. Disebabkan oleh resistensi atau kekurangan hormon insulin yang mengontrol penyebaran glukosa melalui aliran darah ke sel-sel diseluruh tubuh. Diabetes meningkatkan kadar lemak dalam darah, termasuk kolesterol tinggi. Pada diabetes melitus timbul proses penebalan membran kapiler dan arteri koronaria, sehingga terjadi penyempitan aliran darah ke jantung. Penelitian menunjukkan penderita penyakit diabetes militus pada laki-laki mempunyai resiko penyakit jantung koroner 50% lebih tinggi dari pada orang normal, dan resikonya menjadi 2 kali lipat pada perempuan.
Hiperlipidemia
Kolestrol, fosfolipid, trigliserida, dan asam lemak yang merupakan bagian dari lipid plasma berasal endogen dari sintesis lemak dan eksogen dari makanan. Triglserida dan kolestrol merupakan 2 jenis lipid yang relatif mempunyai makna klinis yang penting sehubungan dengan arteriogenesis. Lipid terikat pada protein sabagai mekanisme transport dalam serum. Meningkatnya kolestrol LDL sehubungan dengan peningkatan resiko koronaria, sementara tingginya kadar kolestrol HDL berperan sebagai faktor pelindung terhadap penyakit arteri koronaria.
Merokok
Merokok merupakan faktor independen untuk CHD menjadi penyebab kematian terbesar dibandingkan dengan kanker paru ataupu penyakit paru (Woods, Froclicher, Motzer, & Briges, 2009). Bukan hanya perokok aktif saja tetapi perokokpasif juga dapat meningkatkan fakktor dari CHD. Cara kerjanya yaitu karbon monoksida merusak endhothelium vascular meningkatkan penumpukan kolesterol. Nikotin merangsang pelepasan katekolamin, meningkatkan tekanan darah, frekuensi jantung dan pemakaian oksigen miokardium. Nikotin juga dapat memperkecil volume dari arteri, membatasi perfusi jaringan (pengiriman alira darah dan oksigen). Lebih lanjut, nikotin mengurangi kadar HDL dan meningkatkan agregasi trombosit, meningkatkan resiko pembentukan thrombus.
Obesitas
Obesitas merupakan kelebihan jumlah lemak pada tubuh lebih dari 19% pada laki-laki dan lebih dari 21% pada perempuan. Obesitas sering bebarengan dengan diabetes melitus, dan hipertensi. Obesitas juga bisa meningkatkan kadar kolesterol dan LDL kolesterol. Penyakit jantung koroner resikonya akan meningkat jika berat badan sudah tidak ideal. Kolesterol tinggi pada penderita gemuk dapat ditrunkan dengan diet dan olahraga.
Kurang aktivitas fisik
Latihan Kadar HDL ( High Density Lipoprotein ) kolestrol dapat ditingkatkan dan kolesterol koroner dapat diperbaiki dengan latihan fisik ( exercise ) sehingga resiko penyakit jantung koroner dapat diturunkan. Latihan fisik bermanfaat karena memperbaiki fungsi paru dan pemberian oksigen menurunkan berat badan sehingga lemak tubuh yang berlebihan berkurang bersama-sama dengan menurunkan LDL (Low Density Lipoprotein) kolesterol, membantu menurunkan tekanan darah, dan meningkatkan kesegaran jasmani.
Menopause
Pada wanita yang sudah Menopausekadar HDL akan menurun dan akan terjadi peningkatan LDL.
Stress
Berdasarakan penelitian terdapat hubungan antara faktor stress psikologik dengn penyakit jantung. Stress yang berkepanjangan akan meningkatkan tekanan darah dan katekolamin dan dapat mengakibatkan terajdinya penyempitan pembuluh darah arteri koroner.



Manifestasi Klinis
Menurut Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, (2001) dalam Nurhidayat S.(2011) manifestasi klinis penyakit jantung koroner yaitu : 
Dada terasa tidak nyaman (digambarkan sebagai rasa terbakar, berat, mati rasa, , dapat menjalar kepundak kiri, leher, lengan, punggung atau rahang)
Denyut jantung lebih cepat
Pusing
Sesak nafas
Mual
Berdebar-debar
Kelemahan yang luar biasa
Pemeriksaan Penunjang
Tergantung kebutuhannya beragam jenis pemeriksaan dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis PJK dan menentukan derajatnya. Dari yang sederhana sampai yang invasive sifatnya. Pemeriksaan menurut (Anggraini & Leniwita, 2020) yaitu :
Elektrokardiogram (EKG)
Pemeriksaan aktifitas listrik jantung atau gambaran elektrokardiogram (EKG) adalah pemeriksaan penunjang untuk memberi petunjuk adanya PJK. Dengan pemeriksaan ini kita dapat mengetahui apakah sudah ada tanda-tandanya. Dapat berupa serangan jantung terdahulu, penyempitan atau serangan jantung yang baru terjadi, yang masing-masing memberikan gambaran yang berbeda.
Echocardiography
Pemeriksaan echocardiography memakai scanner untuk mengambil gambar dari jantung. Pemeriksaan ini untuk melihat kontraksi jantung dan melihat bagian mana saja berkontraksi lemah karena suplai darahnya berhenti.


Foto Rontgen Dada
Dari foto rontgen, dokter dapat menilai ukuran jantung, ada-tidaknya pembesaran. Di samping itu dapat juga dilihat gambaran paru. Kelainan pada koroner tidak dapat dilihat dalam foto rontgen ini. Dari ukuran jantung dapat dinilai apakah seorang penderita sudah berada pada PJK lanjut. Mungkin saja PJK lama yang sudah berlanjut pada payah jantung. Gambarannya biasanya jantung terlihat membesar.
Pemeriksaan Laboratorium
Dilakukan untuk mengetahui kadar trigliserida sebagai faktor resiko. Dari pemeriksaan darah juga diketahui ada-tidaknya serangan jantung akut dengan melihat kenaikan enzim jantung.
Bila dari semua pemeriksaan diatas diagnosa PJK belum berhasil ditegakkan, biasanya dokter jantung/ kardiologis akan merekomendasikan untuk dilakukan treadmill.
Alat ini digunakan untuk pemeriksaan diagnostic PJK. Berupa ban berjalan serupa dengan alat olah raga umumnya, namun dihubungkan dengan monitor dan alat rekam EKG. Prinsipnya adalah merekam aktifitas fisik jantung saat latihan. Dapat terjadi berupa gambaran EKG saat aktifitas, yang memberi petunjuk adanya PJK. Hal ini disebabkan karena jantung mempunyai tenaga serap, sehingga pada keadaan sehingga pada keadaan tertentu dalam keadaan istirahat gambaran EKG tampak normal.
Dari hasil treadmill ini telah dapat diduga apakah seseorang menderita PJK. Memang tidak 100% karena pemeriksaan dengan treadmill ini sensitifitasnya hanya sekitar 84% pada pria sedangka untuk wanita hanya 72%. Berarti masih mungkin ramalan ini meleset sekitar 16%, artinya dari 100 orang pria penderita PJK yang terbukti benar hanya 84 orang. Biasanya perlu pemeriksaan lanjut dengan melakukan kateterisasi jantung.


Angiography
Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan rutin dan aman. Cara yang langsung untuk memeriksa keadaan jantung adalah dengan sinar-X terhadap arteri koroner yang dimasukan zat, pewarna (dye) yang dapat direkam oleh sinar-X. Karena jantung terus bergerak (berdenyut) maka dilakukan pengambilan gambar dengan video. Untuk pengambilan gambar ini melakukan tindakan kateterisasi jantung.
Kateterisasi Jantung
Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan kateter semacam selang seukuran ujung lidi. Selang ini dimasukkan langsung ke pembuluh nadi (arteri). Bisa melalui pangkal paha, lipatan lengan atau melalui pembuluh darah di lengan bawah. Kateter didorong dengan tuntunan alat rontgen langsung ke muara pembuluh koroner. Setelah tepat di lubangnya, kemudian disuntikkan cairan kontras sehingga mengisi pembuluh koroner yang dimaksud. Setelah itu dapat dilihat adanya penyempitan atau malahan mungkin tidak ada penyumbatan. Penyempitan atau penyumbatan ini dapat saja mengenai beberapa tempat pada satu pembuluh koroner. Bisa juga sekaligus mengenai beberapa pembuluh koroner. Atas dasar hasil kateterisasi jantung ini akan dapat ditentukan penanganan lebih lanjut. Apakah apsien cukup hanya dengan obat saja, disamping mencegah atau mengendalikan bourgeois resiko. Atau mungkin memerlukan intervensi yang dikenal dengan balon. Banyak juga yang menyebut dengan istilah ditiup atau balonisasi. Saat ini disamping dibalon dapat pula dipasang stent, semacam penyangga seperti cincin atau gorng-gorong yang berguna untuk mencegah kembalinya penyempitan. Bila tidak mungkin dengan obat-obatan, dibalon dengan atau tanpa stent, upaya lain adalah dengan melakukan bedah pintas koroner.
Komplikasi
Komplikasi yang dapat timbul dari penyakit jantung koroner menurut (Wicaksono Saputro, 2019), yaitu :
Syok kardiogenik
Pada syok kardiogenik dapat ditandai dengan adanya gangguan pada fungsi ventrikel kiri yang dapat mengakibatkan gangguan fungsi ventrikel kiri yaitu mengakibatkan gangguan berat pada perfusi jaringan dan penghantaran oksigen ke jaringan yang khas pada syok kardiogenik yang di sebabkan oleh infark miokardium akut.
Gagal jantung kongestif
Gagal jantung kongestif merupakan gangguan pada sistem sirkulasi miokardium gagal jantung kongestif merupakan suatu keadaan dimana jantung tidak dapat memompa darah yang cukp untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan.
Disfungsi otot papilaris
Kontraksi otot papilaris di koordinasi oleh ventrikel kiri secara keseluruhan. Penelitian dengan magnetic resonance imagine menunjukkan bahwa kontraksi spiral pada otot papilaris diatur oleh gerakan torsional serat otot sekitar sumbu utama dari ventrikel kiri. jika bukan karena pemendekan simulton serat otot ventrikel yang berorientasi pada otot papilaris, panjang yang tetap dari korda bias menyebabkan daun prolapse ke atrium kiri sebagai annulus descenden.otot papilaris juga memiliki gerak rotasi di sekitar sumbu panjang ventrikel.
Sindrom dissler (post pericardiotomy syndrome)
Sindrom postpericardiotomy ini biasanya trjadi 23 bulan setelah tindakan pembedahan. Pada keadaan ini pericardium mengalami penipisan sebesar 0,8 mm. pada kasus ini akan muncul tanda dari inflamasi, fibrosis dan tanda lainnya yang sesuai dengan klasifikasi pericardium intraoperative.
Pericarditis akut
Pericarditis akut bisa disebut juga dengan peradangan pada pericardium yang bersifat jinak dan dapat terjadi sebagai manifestasi klinis dari penyakit sistemik.Efek yang dapat ditimbulkan dari pericarditis adalah efusi pericardial yang memicu tamponade jantung.
Aneurisme ventrikal
Aneurisme adalah dilatasi abnormal dari pembuluh darah / aorta. Terjadi suatu perubahan pada dindin aorta, elastin dan otot polos mengalami suatu proses dan menjadi jaringan ikat, akibatnya dinding menjadi lemah lalu menggembung. Penggembungan yang terjadi adalah local dann dapat mencapai lebih lebih dari 50% diameter normal.
Rupture miokard
Ruptur mokard adalah terjadinya robekan pada bagian – bagian jantung seperti otot, dinding, septum, korda tendinea atau katup – katup jantung.Penyebab terjadinyaruptur miokard bervariasi dan pada kasus ini rupture terjadi secara spontan sebagai komplikasi dari infark miokard akut transmural akut, ini merupakan penyebab rupture yang paling sering.Infark jenis ini 90% berhubungan dengan thrombosis akibat atherosclerosis koroner.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada PJK menurut (LeMone, Priscilla, dkk tahun 2019) yaitu pengobatan farmakologi, non farmakologi dan revascularisasi miokardium. Penatalaksanaan yang perlu dilakukan meliputi :
Pengobatan farmakologi
Nitrat
Nitrat termasuk nitrogliserin dan preparat nitrat kerja lama, digunakan untuk mengatasi serangan angina dan mencegah angina. Karena nitrat mengurangi kerja miokardium dan kebutuhan oksigen melalui dilatasi vena dan arteri yang pada akhirnya mengurangi preload dan afterload. Selain itu juga dapat memperbaiki suplai oksigen miokardium dengan mendilatasi pembuluh darah kolateral dan mengurangi stenosis.
Aspirin
Aspirin dosis rendah (80 hingga 325 mg/hari) seringkali diprogramkan untuk mengurangi risiko agregasi trombosit dan pembenukan trombus.
Penyekat beta (bloker)
Obat ini menghambat efek perangsang jantung norepinefrin dan epinefrin, mencegah serangan angina dengan menurunkan frekuensi jantung, kontraktilitas miokardium, dan tekanan darah sehingga menurunkan kebutuhan oksigen miokardium.
Antagonis kalsium
Obat ini mengurangi kebutuhan oksigen miokardium dan meningkatkan suplai darah dan oksigen miokardium. Selain itu juga merupakan vasodilator koroner kuat, secara efektif meningkatkan suplai oksigen.
Anti kolesterol
Statin menurunkan resiko komplikasi aterosklerosis sebesar 30% pada pasien angina. Statin selain sebagai penurun kolesterol juga mempunyai mekanisme lain (pleiotropic effect) yang dapat berperan sebagai anti inflamasi , anti trombotik, dll.
Revaskularisasi miokardium
Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) atau bisa disebut dengan cangkok pintas merupakan pembedahan untuk penyakit jantung koroner melibatkan pembukaan vena atau arteri untuk menciptakan sambungan antara aorta dan arteri koroner melewati obstruksi. Kemudian memungkinkan darah untuk mengaliri bagian iskemik jantung (Nurhidayat S, 2011).
Non farmakologi
Modifikasi pola hidup yang sehat dengan cara olahraga ringan.
Mengontrol faktor risiko yang menyebabkan terjadinya PJK, seperti pola makan, dll.
Melakukan teknik distraksi, memejamkan mata untuk mengatasi rasa nyeri dan relaksasi nafas dalam (teknik breathing exercise, slowbreathing exercise, slow deep breathing exercise) untuk mengurangi tingkat kelelahan.
Membatasi aktivitas yang memperberat aktivitas jantung.
Pencegahan
Menurut (Mary T. Kowalski, 2014) ada beberapa cara untuk mencegah penyakit jantung koroner diantaranya yaitu :
Tidak merokok/berhenti merokok untuk menghindari efek yang membahayakan dari rokok
Mengurangi asupan natrium (garam)
Memperhatikan berat badan agar tidak terjadi obesitas
Mengindari makan makanan yang mengandung kafein
Berolahraga secara teratur sedikitnya 3 kali dalam 1 minggu dengan waktu 30 menit
Tinggikan tungkai kaki pada pagi dan sore hari untuk beberapa menit
Hindari dan meminimalkan stress lingkungan dan penyebab ansietas
Mengkonsumsi obat yang diberikan dokter
Memperbanyak istirahat dan relaksasi jika diperlukan
Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner
Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan PJK? Asuhan keperawatan pada pasien PJK dimulai dari pengkajian, penentuan diagnosa keperawatan, penyusunan rencana tindakan keperawatan, penerapan rencana keperawatan dan evaluasi.
Pengkajian Keperawatan
pengkajian merupakan langkah utama dan dasar utama dari proses keperawatan yang mempunyai dua kegiatan pokok, yaitu :
Pengumpulan data
Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu dalam menentukan status kesehatan dan pola pertahanan penderita, mengidentifikasi, kekuatan dan kebutuhan penderita yang dapat diperoleh melalui anamnese, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboraturium serta pemeriksaan penunjang lainnya.



a) Anamnese
Identitas penderita meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, status perkawinan, suku bangsa, nomor register, tanggal masuk rumah sakit, dan doagnosa medis.
Keluhan utama : CAD terjadi penumpukan plak pada arteri koroner menjadi menyempit mengakibatkan otot jantung melemah, dan menimbulkan komplikasi seperti gagal jantung dan aritme (ganguan irama jantung) mengakitkan polah nafas tidak efektif.
Riwayat kesehatan sekarang : berisi tentang terjadinya penyakit Coronary Artery Disease (CAD), penyebab terjadi penyakit CAD adanya nyeri di bagian dada.
Riwayat kesehatan dulu : adanya riwayat peyakit CAD atau penyakit-penyakit lainnya, tindakan medis yang perna didapat maupun obat-obatan yang biasa digunakan oleh penderita.
Riwayat kesehatan keluarga : dari genogram keluarga biasanya terdapat salah satu anggota keluarga juga menderita CAD (Coronary Artery Disease) atau penyakit keturunan yang dapat menyebabkan terjadinya insulin misal hipertensi, jantung.
Riwayat psikososial : meliputi informasi mengenai perilaku, perasaan dan emosi yang dialami penderita sehubungan dengan penyakitnya serta tanggapan keluarga terhadap penyakit penderita.
b) Pemeriksaan fisik
Status kesehatan umum meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara bicara, tainggi badan, berat badan, dan tanda tanda vital (TTV)
Kepala dan leher kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher, telinga kadang-kadang berdenging, adakah gangguan pendengaran, lidah sering terasa tebal, ludah menjadi kental, gigi mudah goyah, gusih mudah bengkak dan berdarah, apakah penglihatan kabur/ganda, diplopia, lensa mata keruh. 
Sistem integumen : turgor kulit menurun, adanya luka atau warna kehitaman, kelembaban dan suhu kulit didaerah sekitar ulkus dan gangren, kemerahan pada kulit, tekstur rambut dan kuku.
Sistem pernafasan adakah sesak nafas, batuk, sputum, nyeri dada Pada penderita Coronery Artery Disease (CAD).
Sistem kardioveskuler : perfusi jaringan menurun

Diagnosa Keperawatan
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas (D.0005) 
Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas (D.0008)
Nyeri akut b.d agen cidera biologis d.d meringis kesakitan (D.0077)
Intoleran aktifitas b.d Ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen d,d mengeluh lelah (D.0056)
Intervensi Keperawatan

No
Diagnosa keperawatan 
Luaran keperawatan
Intervensi keperawatan 


1.
SDKI
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas (D.0005) 

SLKI
Pola nafas (L.01004) 
setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x 24 jam di harapkan  dapat menurun dengan kreteria hasil sebagai berikut:
Dispnea menurun
Penggunaan otot bantu nafas menurun 
pemanjangan fase ekspirasi menurun 
frekuensi nafas membaik 
kedalaman nafas membaik 

SIKI
Manajemen jalan nafas (I.01011)
Observasi 
monitor pola nafas (frekuensi, kedalaman, usaha nafas)
monitor bunyi nafas tambahan ( mis. gurgling, mengi, wheezing, ronki kering)
monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
Terapeutik 
pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift
posisikan semi fowler atau fowler 
berikan minum hangat 
lakukan fisioterapi dada 
berikan oksigen, jika perlu 
Edukasi 
anjurkan asupan cairan 200 ml/hari, jika tidak kontraindikasi 
ajarkan teknik batuk efektif 
Kolaborasi 
kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran , mukolitik, jika perlu 


Terapi Oksigen (I.01026)
Observasi 
monitor kecepatan aliran oksigen 
monitor posisi alat terapi oksigen 
monitor aliran oksigen secara periodik dan pastikan fraksi yang dilakukan cukup 
monitor efektifitas terapi oksigen 
monitor tanda-tanda hipoventilasi 
monitor integritas mukosa hidung akibat pemasangan oksigen 
Terapeutik 
bersihkan sekret pada mulut, hidung dan trakea, jika perlu 
pertahankan kepatenan jalan nafas 
siapkan dan atur peralatan pemberian oksigen 
berikan oksigen tambahan, jika perlu 
Edukasi 
ajarkan pasien dan keluarga cara menggunakan oksigen di rumah 
Kolaborasi 
kolaborasi penentuan dosis oksigen 
kolaborasi penggunaan oksigen saat aktivitas dan tidur 


2.
Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas (D.0008)

Curah Jantung (L. 02008) 
setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x 24 jam di harapkan  dapat menurun dengan kreteria hasil sebagai berikut:
Kekuatan nadi perifer meningkat 
Palpitasi menurun 
Bradikardia menigkat 
Takikardia menurun 
Gambaran EKG aritmia menurun 
Edema menurun 
Distensi fena jugularis menurun 
Pucat menurun 
Batuk menurun 
Tekanan darah normal 

Perawatan Jantung (I.02075)
Observasi 
Identifikasi tanda dan gejala primer penurunan curah jantung (meliputi dispnea, kelelahan, edema, orthopnea, paroxysmal noctumal dyspnea, peningkatan CVP)
Identifikasi tanda/gejala sekunder penurunan jantung (meliputi peningkatan berat badan, hepatomegali, distensi vena jugularis, palpitasi, rongki basah, oliguria, batuk, kulit pucat)
Monitor takanan darah 
Monitor intake dan output 
Monitor saturasi oksigen 
Monitor keluhan nyeri di dada monitor ekg 12 sadapan
Monitor aritmia (kelainan irama dan frekuensi)
Monitor nilai lanoraturium jantung 
Periksa tekanan darah sesudah dan sebelum aktifitas 
Periksa tekanan darah dan frekuensi nadi sebelum pemberian
Terapeutik 
Posisikan pasien semi fowler 
Berikan diet jantung yang sesuai 
Fasilitasi pasien dan keluarga untuk perilaku hidup sehat 
Berikan terapi teknik relaksasi untuk menguragi stress
Berikan dukungan emosional dan spiritual 
Edukasi 
Anjurkan beraktivitas fisik sesuai toleransi 
Anjurkan beraktifitas fisik secara bertahap 
Ajarkan pasien dan keluarga mengukur intake dan output cairan harian 
Kolaborasi 
Kolaborasi pemberian antiartmia, jika perlu 
Rujuk ke program rehabithasi 

3.
Nyeri akut b.d agen cidera biologis d.d meringis kesakitan (D.0077)
Tingkatan nyeri (L.08066)
setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x 24 jam di harapkan  dapat menurun dengan kreteria hasil sebagai berikut:
Keluhan nyeri menurun 
Gelisah menurun 
Frekuensi nadi membaik 
Skala nyeri turun

Manajemen nyeri ( I.08238)
Observasi
Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intenstas nyeri.
Identifikasi skala nyeri 
Identifikasi nyeri non verbal 
Identifikasi faktor yang memperingan dan memperberat nyeri 
Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
Monitor efek samping penggunaan analgetik 
Terapeutik 
Berikan teknik nonfarmakologis untuk menguragi rasa nyeri 
Fasilitas istirahat dan tidur 
Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemiligan strategi meredakan nyeri 
Edukasi 
Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
Jelaskan strategi meredakan nyeri 
Kolaborasi 
Kolaborasi pemberian analgesic, jika perlu

4.
Intoleran aktifitas b.d Ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen d,d mengeluh lelah (D.0056)

Toleransi Aktifitas (L.05047) 
setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x 24 jam di harapkan  dapat menurun dengan kreteria hasil sebagai berikut:
Keluhan lelah menurun 
Dispnea saat aktivitas menurun 
Dispnea setelah aktivitas menurun 


Manajemen energi (I.05178)
Observasi 
Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan 
Monitor kelelahan fisik dan mental 
Monitor pola tidur dan jam tidur 
Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas 
Terapeutik 
Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis. cahaya, suara kunjungan)
Lakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif 
Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan 
Fasilitasi duduk di tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan 
Edukasi 
Anjurkan tirah baring 
Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap 
Anjurkan menghubungi perawat jika tanda kelelahan tidak berkurang 
Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan 
Kolaborasi 
Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan. 




Terapi aktivitas (I.05186)
Observasi 
Identifikasi defisit tingkat aktivitas 
Identifikasi kemampuan berpartisipasi dalam aktivitas tertentu 
Identifikasi sumber daya untuk aktivitas yang diinginkan 
identifikasi strategi meningkatkan partisipasi dalam aktivitas 
monitor respon emosional, fisik, sosial, dan spiritual terhadap aktivitas 
Terapeutik
fasilitasi fokus pada kemampuan bukan defisit yang dialami 
fasilitasi memilih aktivitas dan tetapkan tujuan aktivitas yang konsisten sesuai kemampuan fisik, psikologis, dan sosial 
koordinasi pemilihan aktivitas sesuai dengan usia 
fasilitasi aktivitas rutin (mis. ambulasi, mobilisasi, dan perawatan diri) 
libatkan keluarga dalam aktovitas 
jadwalkan aktivitas dalam rutinitas sehari-hari 
Edukasi 
jelaskan metode aktivitas sehari-hari 
anjurkan melakukan aktivitas fisik, sosial, spiritual, dan kognitif dalam menjaga fungsi dan kesehatan 
anjurkan terlibat dalam aktivitas atau terapi 
Kolaborasi 
kolaborasi dengan terapis okupasi dalam merencanakan dan memonitor program aktifitas, jika perlu 














BAB III
PENUTUP

Kesimpulan 
Penyakit Jantung Koroner adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh penyempitan dan penghambatan pembuluh arteri yang mengalirkan darah ke otot jantung. Penyempitan dan penghambatan disebabkan oleh akumulasi plak yang berada dibagian dinding arteri coronaria sehingga menyebabkan terjadinya penurunan aliran darah ke jantung yang dapat berakibat terjadinya gangguan oksigenasi otot jantung dengan berbagai derajat bentuk iskemia, infark sampai nekrosis otot jantung dan juga kematian (Lilly, 2016).
Munculnya PJK disebabkan oleh adanya kejadian stenosis arteri koroner yang ditandai dengan proses aterosklerosis terlebih dahulu. Aterosklerosis merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas di dunia, melalui manifestasi mayor penyakit kardiovaskular dan stroke, kemungkinan akan menjadi penyebab kematian secara global pada tahun 2020. Bukti terbaru menunjukkan bahwa aterosklerosis merupakan proses inflamasi kronis dan patogenesisnya melibatkan lipid. 
Penyakit jantung koroner adalah penyakit yang dikarakteristikan dengan obstruksi arteri koroner, yang paling sering diakibatkan oleh plak ateromatosa (Libby, 2005). Proses pembentukan plak tersebut disebut aterogenesis yang bermula dari adanya disfungsi endotel yang dihasilkan dari paparan racun akibat merokok, kadar abnormal dari lipid yang bersikulasi didarah, atau diabetes. Peningkatan kadar HDL berhubungan positif dengan penurunan risiko penyakit jantung koroner (Barter, 2015). 
Pemeriksaan penunjang terdiri dari pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan EKG, Echocardiogram, Tes Stres, Koroner Kateterisasi, Teknologi Ct Scan dan MRA. Komplikasi penyakit jantung koroner  yaitu penyakit jantung, ginjal, otal, mata, dan kerusakan pembuluh arteri. 
Penatalaksanaan pada penderita penyakit jantung koroner harus menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan mortalitas serta morbiditas yang  berkaitan dengan penyakit jantung koroner . Ada dua pendekatan dalam penatalaksanaan yaitu pendekatan pertama merupakan pengobatan etiologi yang menyebabkan penyakit jantung koronoer, sedangkan pada pendekatan yang kedua didasarkan pada pengobatan komplikasi dari penyakit jantung koroner tersebut. 
Saran
Bagi perawat, dalam melakukan asuhan keperawatan pada kasus Penyakit jantung koroner hendaknya memahami penyebab, perjalanan penyakit  tanda gejala, pemeriksaan penunjang, komplikasi serta dapat melakukan penatalaksanaannya agar pertolongan  dapat dilakukan dengan cepat dan benar dan mencapai  asuhan keperawatan yang berkualitas. 
Pada saat pembuatan makalah Penulis menyadari bahwa banyak sekali kesalahan dan jauh dari  kesempurnaan. Dengan sebuah pedoman yang bisa dipertanggung jawabkan dari banyaknya sumber penulis akan memperbaiki makalah tersebut. Oleh sebab itu penulis harapkan kritik serta sarannya mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan diatas.
DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, Y. Leniwita, H. (2020). Modul Keperawatan Medikal Bedah 1. Jakarta : Universitas Kristen Indonesia
Ardiansyah, M. (2012). Medikal Bedah untuk Mahasiswa. Yogyakarta. Diva Press.
Ekayanti, I, G, A, I. (2019). Analis Kadar Kolesterol Total dalam Darah Pasien dengan Diagnosis Penyakit Kardiovaskuler. Vol 1 No 1. 2541-7207.
Hariyono. (2020). Buku AjarAsuhan Keperawatan Sistem Cardiovaskuler untuk Profesi Ners. Jombang : ICME PRESS.
Helmanu, Kurniadi dan Ulfa Nurrahmani. (2015). Stop Gejala Penyakit Jantung Koroner, Kolesterol Tinggi, Diabetes, Hipertensi. Yogyakarta : Istana Medika.
LeMone, Priscilla, dkk. (2019). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Kardiovaskular Edisi 5. Jakarta: EGC
Nazmah, A. (2014). Panduan Belajar Membaca EKG (Elektrokardiografi). Jakarta. Trans Info Media.
Nurhidayat, Saiful. (2011). Asuahn Keperawatan Klien Dengan Gangguan System Kardiovaskuler. Ponorogo : Umpo Press.
PPNI, Tim Pokja SDKI DPP. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (1st ed). DPP PPNI.
PPNI, Tim Pokja SIKI DPP. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.
PPNI, Tim Pokja SLKI DPP. (2018). Standar Luara Keperawatan Indonesia.
Pratiwi, Zhuhri Fiyana. (2011). Evaluasi Penggunaan Obat Pada Pasien Penyakit Jantung Koroner Rawat Inap di RSUD dr. Moewardi Surakarta. Surakarta : Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Rosdahl, Caroline Bunker,Marry T. Kowalski. (2015). Buku Ajar Keperawatan Dasar. Jakarta: EGC.
Sidabutar, R, M. (2019). Sistem Pakar Mendiagnosa Penyakit Sistem Kardiovaskuler pada Lansia dengan Menggunakan Metode Case Based Reasoning. Vol. 6 No. 1. Hal : 93-99.
Sumiati, dkk. (2010). Penanganan Stress Pada Penyakit Jantung Koroner. Jakarta: CV. Trans Info Medika.
World Health Organization (WHO). (2015). Penyakit Kardiovaskuler. Switzerland.
Wicaksono, Saputro Mukti. (2019). Asuhan Keperawatan Pasien Penyakit Jantung Kroner Dengan Ketidakefekifan Manajemen Kesehatan di Wilayak Kerja Puskesmas Sukoharjo Ponorogo. Ponorogo: Kementrian Kesehatan RI Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang Jurusan Keperawatan Prodi D III Keperawatan.

Comments

Popular posts from this blog

Makalah triage, makalah gawat darurat, makalah keperawatan, makalah, triage, makalah triage komplit, makalah terbaru

ASUHAN KEPERAWATAN PADA WANITA DALAM MASA CHILDBEARING (HAMIL, MELAHIRKAN, DAN SETELAH MELAHIRKAN) BAYINYA